Wisata kuliner di Boulevard diminati Sate Kolombi masih cukup terkenal
Sulut kaya dengan keragaman wisata kulinernya. Di Manado ada Tinutuan Wakeke, kalau di Minahasa tepatnya di pusat Kota Tondano ada lokasi wisata kuliner tradisional yang sudah terkenal. Namanya adalah wisata kuliner Boulevard.
LEBIH dari 20 kios yang berjejer di jalan Boulevard ini menyajikan ragam menu masakan tradisional secara khas. Mulai dari Sate Kolom-bi, sate Weris, bebek rica-rica, udang sous, hingga ada sajian ular. Para penggemar masakan tradisional Minaha-sa, memang di lokasi sebelah Utara pusat Kota Tondano ini, datang memanjakan li-dahnya dengan menu rica yang sangat pedas dan ber-selera. Lokasi Wisata kuliner ini berdiri semenjak 15 tahun lalu, ketika pada awal berdiri kios ini hanya dua kios yang menyajikan satu menu saja yakni, sate Kolombi, kemu-dian bertambah menu tra-disional lainnya.
Refly Salangka, salah satu pemilik lokasi tempat makan sate kolombi ini mengatakan, kesehari-harian para penjual ini memang klimaks pema-sukan paling banyak adalah pada waktu malam hari. De-ngan sajian makanan tradisi-onal, ada juga yang menyaji-kan jagung bakar atau jagung rebus. Menariknya, dalam aktivitas ini, para pedagang disini ada yang membuka usahanya 1x24 jam, untuk melayani para konsumen yang datang baik dari Mana-do, Tomohon, Langowan bahkan dari Minsel hingga Minut. “Yah, memang kawa-san disini sangat memiliki prospek yang baik untuk di-jadikan kawasan restoran malam di Tondano. Dan di-harapkan menjadi perhatian dari pemerintah, sebab me-mang pendapatan dari para pengelola restoran dalam se-malam itu lumayan besar. Meskipun untuk jumlah kios yang kini tumbuh bak jamur di musim penghujan,” ujar-nya. Dalam sehari ketika di-kalkulasi setiap kios menda-patkan 300 ribu, untuk per-putaran uang di tempat ini da-lam sepekan, bisa mencapai puluhan juta. Pelak saja ada kurang lebih 4 kios baru yang terlihat mulai disiapkan. Soal keamanan dan kenyamanan di kawasan ini, memang ti-dak ada masalah lagi, pasal-nya di depan jalan masuk ke lokasi ini, sudah ada pos po-lisi yang setiap hari berpat-roli. “Jadi soal keamanan kita terjamin disini,” ujarnya.
Namun sayang, yang men-jadi perhatian disini adalah masalah sanitasi yang me-mang belum terkelola de-ngan baik dan profesional. Untuk sanitasi perlu dilaku-kan secara profesional jangan sampai ini memperburuk ke-adaan lingkungan sekitar yang hanya mengandalkan air yang mengalir ke sawah. “Kita berharap sudah ada ke-putusan dari PDAM Mina-hasa untuk dapat memberi-kan sambungan baru, atau pun ada upaya pengeboran air bawah tanah yang tidak dipu-nguti beban,” ujar Salangka.
Albert Lumingkewas para pengunjung mengatakan, kondisi kios makanan tradi-sional ini sangat baik dan per-lu diperhatikan pemerintah agar bisa menjadi sebuah objek wisata kuliner yang tak lekang oleh waktu. “Kita ber-harap kami mendapat perha-tian dari pemerintah, artinya mematenkan kawasan ini se-bagai kawasan wisata kuli-ner,” ujarnya pria paruh baya yang mengaku menyekolah-kan anaknya dua yang saat ini duduk di bangku SMA dan SMP. Dikatakannya, suka du-ka dalam berdagang ini ada-lah lebih banyak sukanya da-ripada dukanya. “Memang kami belum dibebani pajak, dan ini memberikan kami ke-mudahan untuk itu. Diharap-kan juga toh kalau ada ren-cana dibebani, maka diharap-kan pembebanan biaya tidak terlalu mahal,” ujarnya.
Sampai dengan saat ini, kios yang dibukanya sejak 5 tahun lalu itu, mengaku tidak mer-asa kekurangan bahan dasar sate kolombi. “Kolombi atau semacam keong telaga di Tondano, memang masih cu-kup banyak, dan untuk men-dapatkannya, mereka semua kios disini selain ada yang menangkap sendiri di pema-tang sawah, ada juga yang da-tang menjual dengan penjual langganan,” ujarnya.(erka) (Sumber : Swara Kita Manado)
|