Keelokan Minahasa Pukau Delegasi Travex(MANADO POS)— Keindahan tanah Minahasa membuat penasaran sekira 50 delegasi travel agency asal Eropa. Para delegasi Travel Exchange (Travex)-ASEAN Tourism Forum (ATF) yang baru berakhir Minggu (15/1), tertarik menyusuri tanah yang diberkati, Senin (16/1) pagi.
“Highland, We are coming!” seru mereka kompak yang tergabung dalam peserta post tour Travex-ATF antusias. Para perwakilan travel agen ini berangkat menuju Minahasa menggunakan jasa perjalanan wisata Mapanget Tours and Travel.
Selama perjalanan, Ony pemandu wisata Mapanget Tours menjelaskan setiap titik yang dilalui. Sebagian wisatawan asing merasa lucu dan tertawa mendengar celotehannya. Tiga bus yang mengangkut para turis istimewa ini, melaju menuju Tomohon-Tondano. Titik pertama yang disambangi area Citra Land, dengan panorama Manado dan patung Tuhan Yesus Memberkati. “Wew, flying Jesus!” kata Vadim Grabarchuk, peserta tur asal Ukraina.
Sekira pukul 10.00 Wita, bus kembali melaju menyusuri kawasan Pineleng. Para turis pun tergiur ketika melihat pedagang buah di pinggir jalan.Magdalena, jurnalis asal Polandia tak kalah antusias. Ia langsung menarik fotografernya untuk membidik rumah warga dan kegiatan masyarakat di sepanjang ruas jalan Pineleng.
Tak terasa, waktu berjalan 40 menit menuju Tomohon. “Itu Manado, bukan?” celetuk Magdalena saat bus melintas di Rumah Makan Pemandangan. Ia pun mengarahkan kameranya untuk membidik momen indah itu.
Saat tiba di Kecamatan Tomohon Utara, tepatnya di Kelurahan Kakaskasen, para peserta tur disuguhkan pemandangan mengagumkan. “Inilah Gunung Lokon yang baru erupsi dua minggu lalu. Kali ini gunungnya tenang karena ingin dilihat oleh anda semua,” tutur Ony yang disambut gelak tawa 19 orang dalam bus. Sambil terus menikmati keindahan Lokon, bus menghantar tamunya ke Vihara Buddhayana Tomohon.
Suasana vihara yang sepi tak lantas membuat rombongan merasa sunyi. Decak kagum tampak ketika mereka melihat bangunan vihara yang sangat kental dengan budaya Tionghoa. Belasan patung dewa yang ditata rapi di halaman depan, seakan menyambut para turis penting ini. Para turis diberi kesempatan menikmati panorama dan keindahan vihara sekira 15 menit lamanya.
Seorang delegasi asal Italia begitu serius berdiri di depan kolam keberuntungan. Ia membelakangi kolam, memegang dua puluh uang koin, dan mencoba melemparnya hingga menyentuh bel yang berputar di tengah kolam. “Saya gagal terus, padahal saya ingin bahagia,” katanya dengan ekspresi pura-pura sedih.
Adapun Mark, jurnalis asal Belgia mengaku kagum dengan bangunan Pagoda Ekayana. Mark dan para turis lainnya lantas minta difoto di depan pagoda. “Saya suka laut, tapi ini luar bisa mengejutkan. Tomohon begitu sejuk,” ucapnya dengan senyum binar. Lantas, ia bertanya tentang populasi masyarakat Tionghoa di Tomohon.
Para penjaga vihara menjelaskan, warga Tionghoa hanya sedikit menetap di kawasan itu. Pukul 11.21 Wita bus melanjutkan perjalanan ke Pasar Tomohon. Pusat perbelanjaan yang terkenal menjual segala macam hewan santap ini tiba-tiba membuat Irene, buyer asal Hongaria merinding.
Apa yang dijual di dalam sana? tanya hampir semua orang dalam tur. Ada kelelawar bakar dengan lidah menjulur, kepala babi berdarah-darah, kaki babi hutan, hingga tubuh ular piton super besar yang sudah terbelah. Namun, jualan yang paling membuat para turis kaget adalah anjing bakar.
“Anjing adalah sahabat manusia. Namun karena ini adalah bagian dari tradisi, maka saya tidak bisa berkata banyak. Tapi tetap saja, saya tidak tega mengambil gambar di dalam,” papar Irene dengan mata berkaca-kaca, suaranya seakan tercekat kehilangan kata. Bukan hanya perempuan berbalut pasmina biru saja yang kaget, hampir semua turis asal Eropa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. “Kita ke tempat lain saja,” lanjut Irene.
Memasuki Desa Woloan, Pattanee, pengusaha travel asal Thailand memejam mata lalu menghirup udara di sekitarnya. “Saya suka bau kayu,” ucapnya sambil menaiki tangga rumah adat Woloan Minahasa. Desa ini merupakan kawasan pengusaha pembuat rumah adat.
Keunikan cara membangun ulang rumah ini membuat para turis terkesima. “Masa kita bisa membawa rumah ini ke luar negeri lalu membangunnya kembali? Saya harus punya kalau begitu,” celetuk Vadim, kemudian ia merekam nama pembuat rumah dan nomor kontak yang bisa dihubungi.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 13.00 Wita saat rombongan tiba di Bentenan Center. Meski sudah jam makan siang, namun prosesi penyambutan membuat rasa lapar para tamu tertunda sebentar. Tarian Kabesaran yang dibawakan para perempuan Minahasa langsung menyedot perhatian.
Onny Markadi, pemilik Bentenan Center mengaku senang dengan kunjungan tersebut, ia pun memberikan harga murah bagi para tamu yang membeli souvenir. Sedangkan Rico Taramen, Ketua Pramuwisata Indonesia yang membantu panitia membagikan kain bentenan menyatakan, menyambut baik kegiatan delegasi Travex-ATF karena bisa mendatangkan wisatawan lebih banyak lagi.
Para tamu kemudian dijamu makan siang khas Minahasa dan Internasional. Sayangnya, tak semua peserta tertarik mencicip menu tradisional, bahkan tiga peserta disiapkan menu khusus karena vegetarian. Sambil menikmati hidangan, tamu menyaksikan penampilan Paduan Suara Unima.
Tepuk tangan tak henti-hentinya diberikan usai Unima melantunkan satu lagu ke lagu lainnya. Selesai makan, para tamu lantas diajak melihat dari dekat proses pembuatan kain bantik bentenan. Tak sedikit yang langsung memborong kain yang dibanderol mulai Rp80 ribu-600 ribu per meter.
Sekira pukul 15.00 Wita rombongan melaju ke Bukit Kasih. Sekira 60 menit rombongan mendaki ke atas bukit, yang jadi legenda manusia pertama Minahasa Toar – Limumuut. Mereka harus kembali sebelum matahari tenggelam. Satu per satu tangga dinaiki Patt, Vadim, Foo (buyer asal Cina), dan wartawan Manado Post. “Saya tidak sanggup lagi,” kata Patt. Kami pun kemudian hanya duduk-duduk di deretan depan rumah ibadah di atas bukit.
Usai menikmati pemandangan di atas bukit, bus langsung melesat ke Danau Tondano. Sepanjang jalan, Ony bercerita tentang keindahan alam di sana. Hingga akhirnya bus berhenti di Desa Remboken. Semua turun dan berjalan ke tengah tambak ikan, lalu berfoto bersama. Inilah destinasi terakhir post tour Travex-ATF 2012.
Pukul 18.00 Wita bus meninggalkan Tondano menuju Manado. Mampir makan malam di Rumah Makan Wahaha pukul 20.00 Wita. “Perjalanan yang mengagumkan. Minahasa mengejutkan. Toast!,” ajak Vadim kepada delapan tamu yang mengitari meja VIP di resto pinggir laut ini.
Menurut Vadim dan Patt, harga 300 USD yang ditawarkan untuk paket ini adalah layak. “Perjalanan seperti ini pantaslah dibayar dengan harga itu. Namun tidak semua orang bisa bertahan di perjalanan ini,” kata Patt sambil tertawa. Manager travel di Thailand ini mengaku tidak terlalu sreg dengan kunjungan di Pasar Tomohon.
Lain lagi Vadim, ia merasa waktu sehari berkeliling Minahasa sangatlah kurang. “Dari Ukraina menuju Jakarta saja menghabiskan waktu 10 jam. Menuju Manado 4 jam. Jika ingin berlibur ke sini harus memiliki waktu luang selama minimal 10 hari. Itu saran saya. Jika jenuh, saya akan kembali ke Minahasa,” ucap pria berkacamata ini.
Sementara Alex, staf Mapanget Tour & Travel yang melayani paket liburan ini mengatakan, kegiatan digelar oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulut. “Terkait harganya, memang sengaja diberi tidak mahal sebagai bentuk promosi untuk wisatawan asing,” jelasnya.
Waktu menunjukkan pukul 22.00 Wita. Para peserta tur yang diinapkan di Hotel Sintesa Peninsula kembali ke kamar masing-masing. Mereka tak sabar untuk post tour hari kedua, dengan tujuan TNL Bunaken. “Good night,” ucap mereka saling menyapa sebelum berpisah.(*) (Sumber : Manado Pos)
|